Jumat, 23 Desember 2016

Tolelet Effect


Beberapa hari belakangan membuka media sosial serasa refreshing.Setelah sekian lama hanya berisi berita-berita hoax.status maupun komentar bernada kebencian kali ini terasa sangat berbeda.Curhatan dan tulisan bagaimanapun tak peduli membahas apa tapi entah kenapa dan bagaimana ceritanya yang jelas komentar Netizen yang kekejamannya terkenal itu mendadak berubah seragam sekaligus menggelikan.”Om Tolelet Om” Semoga saja bukan ulah Buzzer bayaran

Sungguh suatu kejadian langka agaknya.Jika biasanya setiap komentar dan perang kata-kata yang mewarnai dunia persilatan dumay itu terkesan dangkal.intimidatif dan subjektif kali ini berubah 360 derjat.Mayoritas netizen mendadak berubah humoris dan cenderung menghargai setiap opini maupun pendapat yang di posting oleh empunya akun.

Ya.Walaupun komentarnya seragam dan terkesan lucu tapi ini adalah suatu kemajuan pesat bagi kebebasan berpendapat.Jika sebelumnya berpendapat di media sosial butuh waktu berhari-hari untuk mengumpulkan keberanian dan persiapan matang sebelum dihakimi netizen.Mungkin untuk beberapa hari ini kita bisa sedikit terbebas dari rasa ketakutan macam itu.Sebab komentar yang ditimbulkan oleh statement maupun pendapat bisa ditebak “Om Tolelet Om”

Penasaran dengan asal mula kata-kata sakti penyejuk dunia persilatan dumay itu penulis tergerak untuk mencari tahu dan ternyata kalimat itu berasal dari semacam kegiatan Hits yang dilakukan oleh bocah-bocah di sepanjang jalan tempat lewatnya bus yang memiliki suara klakson khas dan unik.Para bocah ini sengaja berteriak ataupun mengacungkan kertas yang bertuliskan kalimat itu kearah kaca depan bus yang lewat untuk meminta si supir menyalakan klakson nan unik dan menarik itu ketika melintas.Ketika si supir menyalakan klakson segera si bocah dan kroni-kroninya menyalakan fitur perekam suara yang ada diponsel mereka untuk selanjutnya mungkin di pamerkan di dunia maya.

Suatu kegiatan menyenangkan agaknya.Merekam suara dan memamerkannya.Dan disinilah asal mula kalimat yang membanjiri status-status di media sosial dan bahkan sempat menduduki posisi Hastag teratas itu.

Namun ditengah situasi media sosial yang sangat kondusif itu ternyata masih ada saja netizen yang mungkin Sedang berpikir diluar kotak melawan arus mainstream.Para ahli bahasa dadakan ini tiba-tiba menghancurkan kondisi yang damai dan sentosa ini.Ramai-ramai para ahli bahasa dadakan ini menjustifikasi bahwa kalimat pendamai keadaan itu sebagai kalimat yang berpotensi merusak akidah.Terutama bagi mayoritas.Muslim tentunya.

Berikut kutipan status yang penulis maksud itu
“Om itu berasal dari bahasa bali kuno yang berarti tuhan.Telolet adalah bahasa Swahili yang berarti Yahweh.Om tolelet om maka kalian sedang menyebut Yahweh tuhan orang yahudi.” Dan tidak lupa statement pamungkasnya “Sebarkan pesan ini.jangan berhenti di kamu.Kalian sedang di Yahudinesia”

Ingin tertawa rasanya melihat begitu mudahnya suatu hal dikait-kaitkan dengan akidah.Jika begitu berarti ketika kita menyambung silaturahmi dengan laki-laki dewasa yang lebih tua dari kita berarti kita sedang merusak akidah sendiri dong,? Sebab panggilan yang lazim digunakan adalah “Om” atau “Oom”.? Dan jika pun memang niatnya menyebut nama tuhan yang berasal dari agama lainpun apa salahnya.? Ahh maha benar netizen dengan segala statementnya

Sejauh ini mungkin Tolelet Effect telah berhasil mengkondusifkan dan mendamaikan situasi di zona perang statement dan justifikasi bernama media sosial.Bahkan fenomena ini sempat membuat beberapa artis-artis kelas dunia bertanya-tanya bahkan ikut-ikutan latah menuliskan Tolelet di tweet mereka.Tidak mau kalah menteri perhubungan pun angkat bicara.Menurutnya klakson telolet berpotensi membahayakan masyarakat.Dan beliau menghimbau kepada perusahaan operator bis agar jangan membuat pertunjukan yang membahayakan masyarakat.Hmm peduli rupanya tentang bahaya yang mengancam nyawa masyarakat.

Wow kuatnya daya gravitasi dari Tolelet Effect bahkan membuat “Om Menteri” yang bahkan hampir tidak pernah terdengar suaranya mengeluarkan himbauan yang sama mengenai kolam ikan dadakan yang terbentuk secara ajaib di tengah jalan ketika musim hujan datang itu.Semoga saja ini hanya bentuk Kelatahan Om Menteri semata.

Tolelet Effect Merupakan fenomena nan unik.Unik karena Tolelet dengan kemunculan tiba-tibanya berhasil mengubah cara pandang netizen terhadap opini dan pendapat orang lain di media sosial.Miris jika ternyata kemunculan fenomena muncul sebagai hiburan alternative yang dilakukan bocah-bocah miskin kota yang kehilangan tempat bermain di sapu arus kuat angin pembangunan.

Bukan tanpa alasan.Pada hari ini jumlah ruang terbuka hijau atau lapangan yang tersedia sebagai tempat bermain dan berekspresi para bocah di kota-kota besar jumlahnya sungguh sangat berkurang.Jika pada dahulu kala generasi 90 an sampai hari ini masih bisa berbangga dengan romansa permainan tradisional maupun cerita tentang pertandingan bola ecek-ecek yang menggembirakan namun sekarang kondisinya sudah sangat jauh berbeda.Generasi sekarang tidak menemukan kondisi yang memungkinkan kebahagiaan itu muncul.

Tanah lapang sudah berganti rupa menjadi deretan ruko dan gedung pencakar langit.Sungai yang dulu penuh dengan tawa riang dibumbui sedikit isakan tangis sudah tercemar dialiri pipa-pipa pembuangan limbah pabrik.Seiring bertambahnya waktu harga sebuah kebahagiaan bertambah mahal.

Dan wajar saja rasanya jika hari ini para bocah mulai sedikit berinovasi dan berkembang dalam hal mencari kebahagiaan.Contohnya seperti menjadikan klakson sebagai hiburan pengusir rasa kesal karena hilangnya arena bermain.Oleh karena itu wahai Om Menteri atau siapapun yang peduli.Pahamilah kegiatan ini sebagai suatu yang positif.Bukankah dengan menghabiskan waktu dijalanan dan berinteraksi dengan banyak orang itu adalah hal yang lebih baik ketimbang menghabiskan waktu berjam-jam bermain Game Online.?

Tapi jika nantinya klakson Tolelet memang dilarang pemakaiannya maka itu artinya suatu kehilangan lagi bagi para bocah yang baru menemukan kebahagiaannya kembali.Oh Sungguh generasi yang malang kalian dek.Tak ada yang peduli dan mau mengerti dengan kebahagiaan yang ditimbulkan oleh sebuah aktivitas.Sebab hari ini
kebahagiaan bagai sebuah komoditi yang harus ditukar dengan uang.Begitu agaknya



Rabu, 30 November 2016

Intelektual Organik dan Anak Nagari Karbitan

Minangkabau adalah salah satu suku bangsa yang unik di nusantara.Mereka memiliki tradisi Merantau.Motif merantau itu pun bermacam-macam.ada yang bermotif ekonomi.Pendidikan dan bahkan motif hukuman sekalipun.Tidak salah jika suku bangsa di bagian barat pulau sumatera ini disebut sebagai sebagai suku bangsa yang gemar berdiaspora.Mengembara kemana saja dan ada dimana-mana.Filsafat hidup yang dinamis dan tidak statis ini pulalah yang akhirnya turut berperan dalam lahirnya “Anak Nagari” yang kuat dan cerdas.

Tersebutlah nama Bung Hatta.Tan Malaka.Agus Salim.Sjahrir.M Yamin dan deretan nama urang awak lainnya dalam periode perjuangan kemerdekaan Indonesia.Gamawan Fauzi.Andrinof Chaniago.Husni Kamil Manik.Karni Ilyas.Fadhli Zon dan “Anak yang tidak diakui” Archandra Tahar.Juga merupakan tokoh-tokoh asal minangkabau lainnya yang santer disebut-sebut media beberapa tahun belakangan sebagai produk merantau “Urang Awak”

Dalam sebuah cerita rakyat di minangkabau sendiri juga terkenal kisah tentang perantau hebat.yang berhasil mengubah nasib di tanah rantau.Dulunya ia hanyalah pemuda miskin tak punya apa-apa hingga suatu saat ia berniat pergi melangkahkan kaki dari kampung untuk mengubah nasib.Sebelum pergi ia berjanji kepada ibunya jika ia berhasil di tanah perantauannya nanti ia akan kembali menjemput ibunya.Mujur sepanjang badan,Ternyata ia berhasil menjadi “Orang”di perantauannya.Namun ketika ia kembali dan melihat sosok ibunya yang telah tua,dekil.kumuh dan miskin itu ia malu dan kecewa hingga tidak mengakui jika sosok wanita tua lagi dekil itu adalah ibunya.Sang ibu marah dan kutuk terucap dari mulut keriputnya.”Engkau aku kutuk menjadi batu.Karena hatimu telah keras mambatu”

Dan singkat cerita sang anak durhaka beserta harta dan kapalnya itu pun langsung berubah menjadi batu.Itulah.Itulah kisah si Malin Kundang.Seorang perantau yang lupa diri.Lupa daratan.Lupa dari rahim mana ia dilahirkan.Lupa dengan tangan yang merawatnya semenjak kecil.

Walaupun raga Malin Kundang menjadi batu dan kisahnya abadi turun-temurun dalam masyarakat Minangkabau Tetapi sifat lupa daratan Malin Kundang yang menjadi titik persoalan masih bisa ditemui hari ini. Banyak dari mereka para Perantau minang yang sukses dan jaya di tanah rantaunya tidak pernah kembali lagi untuk “Mambangun Nagari”Mereka sibuk di perantauannya.Acuh dengan pendidikan ”Anak Kemenakannya”Buta dengan kehidupan masyarakat di tempat asalnya dan melupakan falsafah hidup Minangkabau “Adat Basandi Syarak.Syarak Basandi Kitabullah”Karakter Keminangkabauannya telah hilang.

Jika pun ada yang kembali lagi dengan niat “Mambangun Nagari”Mereka hanya muncul setiap 5 tahun sekali.Mengincar kursi empuk parlemen di senayan.Foto-foto mereka ada dimana-mana.Mendulang Massa pemilih dengan modus “Bapaknya orang minang.Istrinya orang minang.Dia lama tinggal di negeri minang.Dia lahir di minang” dan berbagai cara metode persuasif yang seakan-akan dibuat bahwa ia adalah “Anak Nagari Terbaik”yang harus dipilih dan dicoblos saat pemilihan umum nanti.

Setelah terpilih apa.? Mereka buta dengan kondisi masyarakat daerah pemilihannya sebab terlalu lama bermukim di ibukota.Tidak jarang mereka yang terpilih itu pada akhirnya bingung mau memperjuangkan apa karena tidak mengetahui kondisi Real masyarakat Minangkabau hari ini.Dan pada akhirnya mereka memakai “Filsafat” 4D  (Duduk.Diam.Dengarkan.Duit) dalam setiap rapat-rapat pengambilan kebijakan di parlemen.

Menurut Antonio Gramsci mereka ini adalah kaum intelektual tradisional.kaum intelektual yang berada di menara gading,Mereka hidup jauh dari hingar bingar dan realitas yang hidup dalam masyarakat.

Tokoh-tokoh intelektual semacam ini memang memiliki wawasan keilmuan yang luas dan tidak jarang juga memiliki segudang pengalaman dalam dunia sosial dan pergerakan semasa mahasiswa..Didalam CV nya kadang kala tertulis pernah menjabat sebagai Ketua BEM Universitas anu.Ketua UKM ini.Ketua Organisasi itu dan berbagai macam jabatan Antu Bilawu  lainnya.

Tentu saja kredibilitas dan kapabilitas kepemimpinannya tidak diragukan lagi.Namun jarak berkata lain.Hidup jauh di perantauan telah membuat mereka buta dengan keadaaan terkini masyarakat di kampung halaman.Tidak memahami karakter masyarakat pemilih membuat mereka kadangkala tidak tahu pasti apa yang seharusnya mereka perjuangkan.

Dan kaum intelektual seperti inilah yang nantinya akan banyak bermunculan menjelang pesta demokrasi lima tahunan.Layaknya dongeng Si Malin Kundang tadi.Memang mereka akan kembali ke tanah asalnya.Tetapi kepulangan mereka tidak akan berarti apa-apa.Jikapun ada yang berhasil mereka ubah hanyalah nasib segelintir“Sanak Familinya” Saja.

Jika dahulu Malin kundang menuai kutukan sepulang merantau dari ibunya karena durhaka  maka para intelektual tradisional merangkap politisi ini akan pulang untuk menuai sumpah serapah orang kampung yang telah terlanjur menggantungkan harapan kepada mereka si Anak Rantau Nagari karbitan tadi.

Tiba-tiba penulis teringat kepada salah seorang pejuang yang juga perantau minang.yang bahkan dari tanah pengasingannya masih sempat untuk memikirkan nasib jutaan orang di kampungnya.Tanah airnya.Indonesia.Yaitu Ibrahim Datuak Tan Malaka.Seorang intelektual yang masih sempat dan berhasil menjadi tradisional Organik walaupun raganya berada jauh ribuan kilometer dari kampung halamannya

Oleh karena itu wahai para perantau minang.Jika ilmu dan bekalmu sudah cukup maka kembalilah untuk membangun nagari.Ranah Minang menunggu Baktimu.Walaupun ragamu jauh disana tapi Silau jugalah keadaan kampungmu dari tanah rantau sana.Dan jika ada Kesempatan maka kembalilah sebagai anak nagari yang ingin mengabdi.Bukan sebagai politisi pengobral janji.Salam anak rantau..!!!


Selasa, 29 November 2016

Kau Ajarkan Kami Benci Korupsi Sementara Kau Tanam Benih Gratifikasi Saat Ujian Skripsi

Sebagai tempat bersarangnya para pelaku Moral Force yang seringkali menyatakan anti korupsi seharusnya dunia kampus bebas dan steril dari hal-hal kecil yang berpotensi menjadi tempat berseminya bibit-bibit perilaku korupsi.

Dan sangat kontradiktif rasanya ketika ada seorang mahasiswa menyatakan diri sebagai aktivis anti korupsi namun ternyata masih membudayakan Copy Paste dalam pengerjaan tugas yang diberikan oleh sang dosen.Begitulah kesimpulan sepenggal koar lirih dipagi hari yang aku dengar pagi ini dari salah seorang dosen yang katanya anti dengan kegiatan contek-menyontek dan copy paste yang dewasa ini menjadi Hits di kalangan mahasiswa.

Pendapat dosen ini tentu saja benar dan tidak perlu di perdebatkan.Namun jika ditelisik lebih lanjut ternyata pisau kontradiksi yang diarahkan kepada para mahasiswa ini memiliki dua sisi yang menghujam jantung para aktivis mahasiswa yang megaku anti korupsi pada satu sisi dan pada sisi lain bisa saja menghantam ulu hati dosen pemilik koar bersuara cempreng pagi itu.

Bagaimana tidak.Ketika berkoar menyoal budaya plagiat dan serangkaian perilaku tidak jujur lainnya secara tidak disadari sebenarnya iklim kampus juga berperan penting dalam tersemainya perilaku bibit-bibit korupsi ini.Sukarnya skripsi dan peliknya proposal yang datang silih berganti perlahan memaksa para mahasiswa untuk lebih bisa kreatif dan inovatif demi sebuah tanda tangan sang dosen pembimbing maupun dosen penguji tentunya.

Caranya beragam.Dari cara klasik semacam kunjungan silaturahmi ke rumah dosen yang bersangkutan hingga metode Hits Terkini  Seperti persembahan sesajen ke ruangan sidang proposal maupun skripsi.Harapannya sang dosen akan merasa segan setelah menerima persembahan sesajen tadi.Dan sebagai feedback nya adalah si mahasiswa tadi terhindar dari bahaya interogasi materi yang kerap menjadi batu sandungan di akhir masa juang tadi.

Mirisnya dewasa ini praktek pembenihan gratifikasi semacam itu bukan lagi menjadi hal tabu dalam dunia kampus.Bahkan sudah menjadi semacam tradisi dan budaya wajib bagi mahasiswa tingkat akhir jika tidak ingin dipersulit oleh sang dosen penguji nanti,

Entah kapan dan siapa yang memulainya yang jelas hingga hari ini tradisi membawa tentengan atau Sesajen itu  sudah terlanjur mengakar.Buktinya Sesajen pelicin itu telah menjadi sebuah Icon dalam setiap pelaksanaan sidang skripsi.Jika ada List  persiapan dalam menghadapi ujian skripsi sudah dapat dipastikan Sesajen termasuk kepada benda yang wajib dipersiapkan.


Suatu kenyataan lagi.Dari beberapa cerita yang penulis dengar bahkan ada mahasiswa tingkat akhir yang mengaku harus bekerja tambahan dan menabung demi menghadirkan benda keramat jimat pelancar menuju toga tersebut.Suatu realitas yang sebenarnya sangat lucu sekaligus memilukan.Apalagi mengingat hal itu terjadi di lingkungan yang nantinya diharapkan akan menjadi tempat lahirnya para pemimpin masa depan bangsa.Iron Stock Istilahnya.

Mengingat sifatnya yang diberikan ketika ada suatu peristiwa penting yang menentukan masa depan maka wajar saja jika ada sebagian orang yang menganggap bahwa itu adalah  tindakan Gratifikasi yang kedudukannya sejajar dengan tindak pidana korupsi dan penyuapan.

Perilaku Ala  pejabat yang terlanjur menjadi tradisi ini tentu saja sangat merusak citra ke intelektualan kampus.Hal ini terbukti  dari  ujian skripsi maupun proposal yang belakangan ini hanya menjadi sebuah ritual formalitas belaka.Tidak ada lagi perdebatan dan adu argument yang terjadi dalam ruangan sakral bertuliskan ruang sidang skripsi itu.Alih-alih menjadi medan pertempuran yang sebenarnya bagi para mahasiswa sekarang ruangan sakral ini beralih fungsi menjadi panggung “Stand Up Comedy” yang acapkali mempertontonkan jawaban lucu nan mengocok perut dari mahasiswa yang sedang diuji pemahamannya mengenai karya akhir nan sakral bernama skripsi tadi,

Lucu memang ketika membayangkan wajah si dosen ketika mengecam perbuatan mencontek yang disebutnya sebagai benih-benih korupsi sementara dirinya sendiri sebenarnya ikut berperan dalam menyemai bibit-bibit gratifikasi di ladang intelektual bernama kampus setiap ujian skripsi.

Dan jika begitu mahasiswa baru nan polos yang saya temui tempo haripun tidak salah jika berkomentar pendek  “Kau ajarkan kami benci korupsi sementara kau tanam benih-benih Gratifikasi saat ujian Skripsi”

Selasa, 13 September 2016

Bolehkah aku resah

Panji hijau hitam yang menempel di kamar kontrakan berdebu..
Seolah memandangiku dalam sunyi Menangis dalam diam sepi..
Meratapi insan cita yang kini tak lagi mampu untuk bercita-cita..
Ingin aku bertanya..
Pada sampul binder berpotret tan malaka Yang hobi berdialektika Sunyikah hidupku kini ?
Siapakah aku ini .?
Dimanakah kini jati diri..?
Ku coba bertanya kepada secangkir kopi Yang tak lagi menawarkan mimpi-mimpi lewat diskusi.
Perlukah semua ini.?
Untuk apa semua ini.?
Ataukah ini semua hanya halusinasi ?
Atau aku yang terlalu sibuk bermimpi dan berimajinasi.?
Tanggung katanya..
Jangan berhenti..
Ucap tumpukan buku di sudut sana.. Percuma..
Jangan lari..
Ujarnya..
Bacotnya..