Beberapa hari belakangan membuka media sosial serasa
refreshing.Setelah sekian lama hanya berisi berita-berita hoax.status maupun
komentar bernada kebencian kali ini terasa sangat berbeda.Curhatan dan tulisan
bagaimanapun tak peduli membahas apa tapi entah kenapa dan bagaimana ceritanya
yang jelas komentar Netizen yang kekejamannya terkenal itu mendadak berubah
seragam sekaligus menggelikan.”Om Tolelet
Om” Semoga saja bukan ulah Buzzer
bayaran
Sungguh suatu kejadian langka agaknya.Jika biasanya setiap
komentar dan perang kata-kata yang mewarnai dunia persilatan dumay itu terkesan
dangkal.intimidatif dan subjektif kali ini berubah 360 derjat.Mayoritas netizen
mendadak berubah humoris dan cenderung menghargai setiap opini maupun pendapat
yang di posting oleh empunya akun.
Ya.Walaupun komentarnya seragam dan terkesan lucu tapi ini
adalah suatu kemajuan pesat bagi kebebasan berpendapat.Jika sebelumnya
berpendapat di media sosial butuh waktu berhari-hari untuk mengumpulkan
keberanian dan persiapan matang sebelum dihakimi netizen.Mungkin untuk beberapa
hari ini kita bisa sedikit terbebas dari rasa ketakutan macam itu.Sebab
komentar yang ditimbulkan oleh statement maupun pendapat bisa ditebak “Om Tolelet Om”
Penasaran dengan asal mula kata-kata sakti penyejuk dunia
persilatan dumay itu penulis tergerak
untuk mencari tahu dan ternyata kalimat itu berasal dari semacam kegiatan Hits yang dilakukan oleh bocah-bocah di
sepanjang jalan tempat lewatnya bus yang memiliki suara klakson khas dan
unik.Para bocah ini sengaja berteriak ataupun mengacungkan kertas yang
bertuliskan kalimat itu kearah kaca depan bus yang lewat untuk meminta si supir
menyalakan klakson nan unik dan menarik itu ketika melintas.Ketika si supir
menyalakan klakson segera si bocah dan kroni-kroninya menyalakan fitur perekam
suara yang ada diponsel mereka untuk selanjutnya mungkin di pamerkan di dunia maya.
Suatu kegiatan menyenangkan agaknya.Merekam suara dan
memamerkannya.Dan disinilah asal mula kalimat yang membanjiri status-status di
media sosial dan bahkan sempat menduduki posisi Hastag teratas itu.
Namun ditengah situasi media sosial yang sangat kondusif itu
ternyata masih ada saja netizen yang mungkin Sedang berpikir diluar kotak melawan arus mainstream.Para ahli
bahasa dadakan ini tiba-tiba menghancurkan kondisi yang damai dan sentosa
ini.Ramai-ramai para ahli bahasa dadakan ini menjustifikasi bahwa kalimat
pendamai keadaan itu sebagai kalimat yang berpotensi merusak akidah.Terutama
bagi mayoritas.Muslim tentunya.
Berikut kutipan status yang penulis maksud itu
“Om itu berasal dari
bahasa bali kuno yang berarti tuhan.Telolet adalah bahasa Swahili yang berarti
Yahweh.Om tolelet om maka kalian sedang menyebut Yahweh tuhan orang yahudi.”
Dan tidak lupa statement pamungkasnya “Sebarkan pesan ini.jangan berhenti di
kamu.Kalian sedang di Yahudinesia”
Ingin tertawa rasanya melihat begitu mudahnya suatu hal
dikait-kaitkan dengan akidah.Jika begitu berarti ketika kita menyambung
silaturahmi dengan laki-laki dewasa yang lebih tua dari kita berarti kita
sedang merusak akidah sendiri dong,? Sebab panggilan yang lazim digunakan
adalah “Om” atau “Oom”.? Dan jika pun memang niatnya menyebut nama tuhan yang
berasal dari agama lainpun apa salahnya.? Ahh maha benar netizen dengan segala
statementnya
Sejauh ini mungkin Tolelet
Effect telah berhasil mengkondusifkan dan mendamaikan situasi di zona
perang statement dan justifikasi bernama media sosial.Bahkan fenomena ini
sempat membuat beberapa artis-artis kelas dunia bertanya-tanya bahkan ikut-ikutan
latah menuliskan Tolelet di tweet
mereka.Tidak mau kalah menteri perhubungan pun angkat bicara.Menurutnya klakson
telolet berpotensi membahayakan masyarakat.Dan beliau menghimbau kepada
perusahaan operator bis agar jangan membuat pertunjukan yang membahayakan masyarakat.Hmm
peduli rupanya tentang bahaya yang mengancam nyawa masyarakat.
Wow kuatnya daya gravitasi dari Tolelet Effect bahkan membuat “Om
Menteri” yang bahkan hampir tidak pernah terdengar suaranya mengeluarkan
himbauan yang sama mengenai kolam ikan dadakan yang terbentuk secara ajaib di
tengah jalan ketika musim hujan datang itu.Semoga saja ini hanya bentuk Kelatahan Om Menteri semata.
Tolelet Effect Merupakan
fenomena nan unik.Unik karena Tolelet
dengan kemunculan tiba-tibanya berhasil mengubah cara pandang netizen terhadap
opini dan pendapat orang lain di media sosial.Miris jika ternyata kemunculan
fenomena muncul sebagai hiburan alternative yang dilakukan bocah-bocah miskin
kota yang kehilangan tempat bermain di sapu arus kuat angin pembangunan.
Bukan tanpa alasan.Pada hari ini jumlah ruang terbuka hijau
atau lapangan yang tersedia sebagai tempat bermain dan berekspresi para bocah
di kota-kota besar jumlahnya sungguh sangat berkurang.Jika pada dahulu kala
generasi 90 an sampai hari ini masih
bisa berbangga dengan romansa permainan tradisional maupun cerita tentang
pertandingan bola ecek-ecek yang menggembirakan namun sekarang kondisinya sudah
sangat jauh berbeda.Generasi sekarang tidak menemukan kondisi yang memungkinkan
kebahagiaan itu muncul.
Tanah lapang sudah berganti rupa menjadi deretan ruko dan
gedung pencakar langit.Sungai yang dulu penuh dengan tawa riang dibumbui
sedikit isakan tangis sudah tercemar dialiri pipa-pipa pembuangan limbah
pabrik.Seiring bertambahnya waktu harga sebuah kebahagiaan bertambah mahal.
Dan wajar saja rasanya jika hari ini para bocah mulai
sedikit berinovasi dan berkembang dalam hal mencari kebahagiaan.Contohnya
seperti menjadikan klakson sebagai
hiburan pengusir rasa kesal karena hilangnya arena bermain.Oleh karena itu
wahai Om Menteri atau siapapun yang
peduli.Pahamilah kegiatan ini sebagai suatu yang positif.Bukankah dengan menghabiskan
waktu dijalanan dan berinteraksi dengan banyak orang itu adalah hal yang lebih
baik ketimbang menghabiskan waktu berjam-jam bermain Game Online.?
Tapi jika nantinya klakson Tolelet memang dilarang pemakaiannya maka itu artinya suatu
kehilangan lagi bagi para bocah yang baru menemukan kebahagiaannya kembali.Oh
Sungguh generasi yang malang kalian dek.Tak ada yang peduli dan mau mengerti
dengan kebahagiaan yang ditimbulkan oleh sebuah aktivitas.Sebab hari ini
kebahagiaan bagai sebuah komoditi yang harus ditukar dengan uang.Begitu agaknya