Sebagai tempat bersarangnya para pelaku Moral Force yang
seringkali menyatakan anti korupsi seharusnya dunia kampus bebas dan steril
dari hal-hal kecil yang berpotensi menjadi tempat berseminya bibit-bibit
perilaku korupsi.
Dan sangat kontradiktif rasanya ketika ada seorang mahasiswa
menyatakan diri sebagai aktivis anti korupsi namun ternyata masih membudayakan
Copy Paste dalam pengerjaan tugas yang diberikan oleh sang dosen.Begitulah kesimpulan
sepenggal koar lirih dipagi hari yang aku dengar pagi ini dari salah seorang
dosen yang katanya anti dengan kegiatan contek-menyontek dan copy paste yang dewasa
ini menjadi Hits di kalangan
mahasiswa.
Pendapat dosen ini tentu saja benar dan tidak perlu di
perdebatkan.Namun jika ditelisik lebih lanjut ternyata pisau kontradiksi yang
diarahkan kepada para mahasiswa ini memiliki dua sisi yang menghujam jantung
para aktivis mahasiswa yang megaku anti korupsi pada satu sisi dan pada sisi
lain bisa saja menghantam ulu hati dosen pemilik koar bersuara cempreng pagi
itu.
Bagaimana tidak.Ketika berkoar menyoal budaya plagiat dan
serangkaian perilaku tidak jujur lainnya secara tidak disadari sebenarnya iklim kampus juga berperan penting dalam tersemainya perilaku bibit-bibit
korupsi ini.Sukarnya skripsi dan peliknya proposal yang datang silih berganti
perlahan memaksa para mahasiswa untuk lebih bisa kreatif dan inovatif demi sebuah tanda tangan sang dosen pembimbing maupun dosen penguji tentunya.
Caranya beragam.Dari cara klasik semacam kunjungan
silaturahmi ke rumah dosen yang bersangkutan hingga metode Hits Terkini Seperti
persembahan sesajen ke ruangan sidang proposal maupun skripsi.Harapannya sang
dosen akan merasa segan setelah menerima persembahan sesajen tadi.Dan sebagai feedback nya adalah si mahasiswa tadi
terhindar dari bahaya interogasi materi yang kerap menjadi batu sandungan di
akhir masa juang tadi.
Mirisnya dewasa ini praktek pembenihan gratifikasi semacam
itu bukan lagi menjadi hal tabu dalam dunia kampus.Bahkan sudah menjadi semacam
tradisi dan budaya wajib bagi mahasiswa tingkat akhir jika tidak ingin
dipersulit oleh sang dosen penguji nanti,
Entah kapan dan siapa yang memulainya yang jelas hingga hari ini tradisi membawa tentengan atau Sesajen itu sudah terlanjur mengakar.Buktinya Sesajen pelicin itu telah menjadi sebuah Icon dalam setiap pelaksanaan sidang skripsi.Jika ada List persiapan dalam menghadapi ujian skripsi sudah dapat dipastikan Sesajen termasuk kepada benda yang wajib dipersiapkan.
Entah kapan dan siapa yang memulainya yang jelas hingga hari ini tradisi membawa tentengan atau Sesajen itu sudah terlanjur mengakar.Buktinya Sesajen pelicin itu telah menjadi sebuah Icon dalam setiap pelaksanaan sidang skripsi.Jika ada List persiapan dalam menghadapi ujian skripsi sudah dapat dipastikan Sesajen termasuk kepada benda yang wajib dipersiapkan.
Suatu kenyataan lagi.Dari beberapa cerita yang penulis dengar bahkan ada mahasiswa tingkat akhir yang mengaku harus bekerja tambahan dan menabung demi menghadirkan benda keramat jimat pelancar menuju toga tersebut.Suatu realitas yang sebenarnya sangat lucu sekaligus memilukan.Apalagi mengingat hal itu terjadi di lingkungan yang nantinya diharapkan akan menjadi tempat lahirnya para pemimpin masa depan bangsa.Iron Stock Istilahnya.
Mengingat sifatnya yang diberikan ketika ada suatu peristiwa penting yang menentukan masa depan maka wajar saja jika ada sebagian orang yang menganggap bahwa itu adalah tindakan Gratifikasi yang kedudukannya sejajar dengan tindak pidana korupsi dan penyuapan.
Perilaku Ala pejabat yang terlanjur menjadi tradisi ini tentu saja sangat merusak citra ke intelektualan kampus.Hal ini terbukti dari ujian skripsi maupun proposal yang belakangan ini hanya menjadi sebuah ritual formalitas belaka.Tidak ada lagi perdebatan dan adu argument yang terjadi dalam ruangan sakral bertuliskan ruang sidang skripsi itu.Alih-alih menjadi medan pertempuran yang sebenarnya bagi para mahasiswa sekarang ruangan sakral ini beralih fungsi menjadi panggung “Stand Up Comedy” yang acapkali mempertontonkan jawaban lucu nan mengocok perut dari mahasiswa yang sedang diuji pemahamannya mengenai karya akhir nan sakral bernama skripsi tadi,
Perilaku Ala pejabat yang terlanjur menjadi tradisi ini tentu saja sangat merusak citra ke intelektualan kampus.Hal ini terbukti dari ujian skripsi maupun proposal yang belakangan ini hanya menjadi sebuah ritual formalitas belaka.Tidak ada lagi perdebatan dan adu argument yang terjadi dalam ruangan sakral bertuliskan ruang sidang skripsi itu.Alih-alih menjadi medan pertempuran yang sebenarnya bagi para mahasiswa sekarang ruangan sakral ini beralih fungsi menjadi panggung “Stand Up Comedy” yang acapkali mempertontonkan jawaban lucu nan mengocok perut dari mahasiswa yang sedang diuji pemahamannya mengenai karya akhir nan sakral bernama skripsi tadi,
Lucu memang ketika membayangkan wajah si dosen ketika mengecam
perbuatan mencontek yang disebutnya sebagai benih-benih korupsi sementara
dirinya sendiri sebenarnya ikut berperan dalam menyemai bibit-bibit gratifikasi
di ladang intelektual bernama kampus setiap ujian skripsi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar