Selasa, 29 November 2016

Kau Ajarkan Kami Benci Korupsi Sementara Kau Tanam Benih Gratifikasi Saat Ujian Skripsi

Sebagai tempat bersarangnya para pelaku Moral Force yang seringkali menyatakan anti korupsi seharusnya dunia kampus bebas dan steril dari hal-hal kecil yang berpotensi menjadi tempat berseminya bibit-bibit perilaku korupsi.

Dan sangat kontradiktif rasanya ketika ada seorang mahasiswa menyatakan diri sebagai aktivis anti korupsi namun ternyata masih membudayakan Copy Paste dalam pengerjaan tugas yang diberikan oleh sang dosen.Begitulah kesimpulan sepenggal koar lirih dipagi hari yang aku dengar pagi ini dari salah seorang dosen yang katanya anti dengan kegiatan contek-menyontek dan copy paste yang dewasa ini menjadi Hits di kalangan mahasiswa.

Pendapat dosen ini tentu saja benar dan tidak perlu di perdebatkan.Namun jika ditelisik lebih lanjut ternyata pisau kontradiksi yang diarahkan kepada para mahasiswa ini memiliki dua sisi yang menghujam jantung para aktivis mahasiswa yang megaku anti korupsi pada satu sisi dan pada sisi lain bisa saja menghantam ulu hati dosen pemilik koar bersuara cempreng pagi itu.

Bagaimana tidak.Ketika berkoar menyoal budaya plagiat dan serangkaian perilaku tidak jujur lainnya secara tidak disadari sebenarnya iklim kampus juga berperan penting dalam tersemainya perilaku bibit-bibit korupsi ini.Sukarnya skripsi dan peliknya proposal yang datang silih berganti perlahan memaksa para mahasiswa untuk lebih bisa kreatif dan inovatif demi sebuah tanda tangan sang dosen pembimbing maupun dosen penguji tentunya.

Caranya beragam.Dari cara klasik semacam kunjungan silaturahmi ke rumah dosen yang bersangkutan hingga metode Hits Terkini  Seperti persembahan sesajen ke ruangan sidang proposal maupun skripsi.Harapannya sang dosen akan merasa segan setelah menerima persembahan sesajen tadi.Dan sebagai feedback nya adalah si mahasiswa tadi terhindar dari bahaya interogasi materi yang kerap menjadi batu sandungan di akhir masa juang tadi.

Mirisnya dewasa ini praktek pembenihan gratifikasi semacam itu bukan lagi menjadi hal tabu dalam dunia kampus.Bahkan sudah menjadi semacam tradisi dan budaya wajib bagi mahasiswa tingkat akhir jika tidak ingin dipersulit oleh sang dosen penguji nanti,

Entah kapan dan siapa yang memulainya yang jelas hingga hari ini tradisi membawa tentengan atau Sesajen itu  sudah terlanjur mengakar.Buktinya Sesajen pelicin itu telah menjadi sebuah Icon dalam setiap pelaksanaan sidang skripsi.Jika ada List  persiapan dalam menghadapi ujian skripsi sudah dapat dipastikan Sesajen termasuk kepada benda yang wajib dipersiapkan.


Suatu kenyataan lagi.Dari beberapa cerita yang penulis dengar bahkan ada mahasiswa tingkat akhir yang mengaku harus bekerja tambahan dan menabung demi menghadirkan benda keramat jimat pelancar menuju toga tersebut.Suatu realitas yang sebenarnya sangat lucu sekaligus memilukan.Apalagi mengingat hal itu terjadi di lingkungan yang nantinya diharapkan akan menjadi tempat lahirnya para pemimpin masa depan bangsa.Iron Stock Istilahnya.

Mengingat sifatnya yang diberikan ketika ada suatu peristiwa penting yang menentukan masa depan maka wajar saja jika ada sebagian orang yang menganggap bahwa itu adalah  tindakan Gratifikasi yang kedudukannya sejajar dengan tindak pidana korupsi dan penyuapan.

Perilaku Ala  pejabat yang terlanjur menjadi tradisi ini tentu saja sangat merusak citra ke intelektualan kampus.Hal ini terbukti  dari  ujian skripsi maupun proposal yang belakangan ini hanya menjadi sebuah ritual formalitas belaka.Tidak ada lagi perdebatan dan adu argument yang terjadi dalam ruangan sakral bertuliskan ruang sidang skripsi itu.Alih-alih menjadi medan pertempuran yang sebenarnya bagi para mahasiswa sekarang ruangan sakral ini beralih fungsi menjadi panggung “Stand Up Comedy” yang acapkali mempertontonkan jawaban lucu nan mengocok perut dari mahasiswa yang sedang diuji pemahamannya mengenai karya akhir nan sakral bernama skripsi tadi,

Lucu memang ketika membayangkan wajah si dosen ketika mengecam perbuatan mencontek yang disebutnya sebagai benih-benih korupsi sementara dirinya sendiri sebenarnya ikut berperan dalam menyemai bibit-bibit gratifikasi di ladang intelektual bernama kampus setiap ujian skripsi.

Dan jika begitu mahasiswa baru nan polos yang saya temui tempo haripun tidak salah jika berkomentar pendek  “Kau ajarkan kami benci korupsi sementara kau tanam benih-benih Gratifikasi saat ujian Skripsi”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar