Minggu, 04 Juni 2017

Sepenggal Kontradiksi dari Teluk Jering Kampar


Siapa sangka. Ternyata di salah satu negeri terkaya di Indonesia ini pendidikan masihlah menjadi persoalan yang seringkali diabaikan. Sumber daya alam yang kaya rupanya tidak menjamin kesejahteraan masyararakat sekitar. Jikapun ada yang bisa dijamin dari kekayaan sumber daya alam ini hanyalah persoalan perizinan pendirian pabrik atau perusahaan belaka. Itupun hanya untuk “Mereka” saja.

Siapa mereka itu ? Mereka adalah orang-orang berpunya. Bermodal. Sedangkan kita masyarakat sekitar dapat apa ? Palingan di iming-imingi pekerjaan saja sudah syukur.
Ya begitulah sepenggal cerita yang keluar dari seorang bapak tua di desa Teluk Jering kecamatan Kampar kiri ketika rombongan kami sampai di desa itu untuk melakukan survey lapangan sebelum memulai proyek pengabdian di desa ini.

Pagi itu kami dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP UR akan mengadakan pengabdian secara berkelanjutan di SDN 018 Teluk Jering ini. Survey ini kami lakukan pada tanggal 16 Mei 2017 guna berinteraksi dengan masyarakat sekaligus meninjau langsung kondisi tempat pengabdian yang akan dilangsungkan.

Pilihan saya untuk mengambil bagian dalam proyek pengabdian di desa ini ternyata tidak sia-sia. Sebab dari desa inilah pertama kalinya saya benar-benar merasakan bagaimana kerasnya kontradiksi yang terjadi. Tentang ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.

Jujur sebelum mengikuti kegiatan ini sebagai seorang perantau di tanah Riau ini pada awalnya saya menganggap bahwa Riau adalah negeri yang sangat kaya dan mustahil masih ada terdapat masyarakat yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak.

Semuanya berubah pada hari itu juga tanggal 21 Mei 2017 . Ketika akhirnya saya menyaksikan sendiri bagaimana semangat bocah-bocah bertelanjang kaki itu belajar di dalam kelas. Tentang santainya mereka belajar berhitung mengenakan celana pendek motif tentara dan berkaos bola. Renyahnya tawa mereka menyaksikan kambing nakal warga yang menyelinap kedalam kelas.
Rasa kesal didalam hati tidak bisa saya sembunyikan.

 Saya yakin dan percaya bahwa sebelas kawan seperjuangan lainnya turut merasakan hal itu. Terlihat jelas di mata mereka api yang berkobar dan raut muka marah menyaksikan ketidakadilan ini terjadi. Saking kesalnya ketika disuruh untuk mengajar berhitung di depan kelas. Mereka ini tanpa sadar malah berorasi didepan bocah-bocah polos ini tentang kezaliman pemerintah yang memarjinalkan mereka.


Kondisi kelas tempat bocah-bocah ini belajar sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak. Ruang kelas yang hampir roboh dan kursi-kursi tua yang bisa patah sewaktu-waktu diduduki oleh mereka. Tenalga pengajar yang tersedia pun begitu. Hanya ada 3 guru yang mengajar untuk 6 kelas. Dan itupun kehadirannya tidak bisa dipastikan

Kondisi yang membuat saya pada akhirnya menyadari betapa beruntungnya saya dan adik-adik dibanding mereka yang berada di sini.