Siapa sangka. Ternyata di salah satu negeri terkaya
di Indonesia ini pendidikan masihlah menjadi persoalan yang seringkali
diabaikan. Sumber daya alam yang kaya rupanya tidak menjamin kesejahteraan
masyararakat sekitar. Jikapun ada yang bisa dijamin dari kekayaan sumber daya
alam ini hanyalah persoalan perizinan pendirian pabrik atau perusahaan belaka.
Itupun hanya untuk “Mereka” saja.
Siapa mereka itu ? Mereka adalah orang-orang
berpunya. Bermodal. Sedangkan kita masyarakat sekitar dapat apa ? Palingan di
iming-imingi pekerjaan saja sudah syukur.
Ya begitulah sepenggal cerita yang keluar dari
seorang bapak tua di desa Teluk Jering kecamatan Kampar kiri ketika rombongan
kami sampai di desa itu untuk melakukan survey lapangan sebelum memulai proyek
pengabdian di desa ini.
Pagi itu kami dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Komisariat FISIP UR akan mengadakan pengabdian secara berkelanjutan di SDN 018
Teluk Jering ini. Survey ini kami lakukan pada tanggal 16 Mei 2017 guna
berinteraksi dengan masyarakat sekaligus meninjau langsung kondisi tempat
pengabdian yang akan dilangsungkan.
Pilihan saya untuk mengambil bagian dalam proyek
pengabdian di desa ini ternyata tidak sia-sia. Sebab dari desa inilah pertama
kalinya saya benar-benar merasakan bagaimana kerasnya kontradiksi yang terjadi.
Tentang ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.
Jujur sebelum mengikuti kegiatan ini sebagai seorang
perantau di tanah Riau ini pada awalnya saya menganggap bahwa Riau adalah
negeri yang sangat kaya dan mustahil masih ada terdapat masyarakat yang tidak
mendapatkan pendidikan yang layak.
Semuanya berubah pada hari itu juga tanggal 21 Mei
2017 . Ketika akhirnya saya menyaksikan sendiri bagaimana semangat bocah-bocah
bertelanjang kaki itu belajar di dalam kelas. Tentang santainya mereka belajar
berhitung mengenakan celana pendek motif tentara dan berkaos bola. Renyahnya
tawa mereka menyaksikan kambing nakal warga yang menyelinap kedalam kelas.
Rasa kesal didalam hati tidak bisa saya sembunyikan.
Saya yakin dan percaya bahwa sebelas kawan seperjuangan lainnya turut
merasakan hal itu. Terlihat jelas di mata mereka api yang berkobar dan raut
muka marah menyaksikan ketidakadilan ini terjadi. Saking kesalnya ketika
disuruh untuk mengajar berhitung di depan kelas. Mereka ini tanpa sadar malah
berorasi didepan bocah-bocah polos ini tentang kezaliman pemerintah yang
memarjinalkan mereka.
Kondisi kelas tempat bocah-bocah ini belajar sangat
memprihatinkan dan jauh dari kata layak. Ruang kelas yang hampir roboh dan
kursi-kursi tua yang bisa patah sewaktu-waktu diduduki oleh mereka. Tenalga
pengajar yang tersedia pun begitu. Hanya ada 3 guru yang mengajar untuk 6
kelas. Dan itupun kehadirannya tidak bisa dipastikan
Kondisi yang membuat saya pada akhirnya menyadari betapa
beruntungnya saya dan adik-adik dibanding mereka yang berada di sini.

