Minangkabau adalah
salah satu suku bangsa yang unik di nusantara.Mereka memiliki tradisi
Merantau.Motif merantau itu pun bermacam-macam.ada yang bermotif
ekonomi.Pendidikan dan bahkan motif hukuman sekalipun.Tidak salah jika suku
bangsa di bagian barat pulau sumatera ini disebut sebagai sebagai suku bangsa
yang gemar berdiaspora.Mengembara kemana saja dan ada dimana-mana.Filsafat
hidup yang dinamis dan tidak statis ini pulalah yang akhirnya turut berperan
dalam lahirnya “Anak Nagari” yang
kuat dan cerdas.
Tersebutlah nama Bung
Hatta.Tan Malaka.Agus Salim.Sjahrir.M Yamin dan deretan nama urang awak lainnya dalam periode perjuangan kemerdekaan
Indonesia.Gamawan Fauzi.Andrinof Chaniago.Husni Kamil Manik.Karni Ilyas.Fadhli
Zon dan “Anak yang tidak diakui”
Archandra Tahar.Juga merupakan tokoh-tokoh asal minangkabau lainnya yang santer
disebut-sebut media beberapa tahun belakangan sebagai produk merantau “Urang Awak”
Dalam sebuah cerita
rakyat di minangkabau sendiri juga terkenal kisah tentang perantau hebat.yang
berhasil mengubah nasib di tanah rantau.Dulunya ia hanyalah pemuda miskin tak
punya apa-apa hingga suatu saat ia berniat pergi melangkahkan kaki dari kampung
untuk mengubah nasib.Sebelum pergi ia berjanji kepada ibunya jika ia berhasil
di tanah perantauannya nanti ia akan kembali menjemput ibunya.Mujur sepanjang
badan,Ternyata ia berhasil menjadi “Orang”di
perantauannya.Namun ketika ia kembali dan melihat sosok ibunya yang telah
tua,dekil.kumuh dan miskin itu ia malu dan kecewa hingga tidak mengakui jika
sosok wanita tua lagi dekil itu adalah ibunya.Sang ibu marah dan kutuk terucap
dari mulut keriputnya.”Engkau aku kutuk menjadi batu.Karena hatimu telah keras
mambatu”
Dan singkat cerita sang
anak durhaka beserta harta dan kapalnya itu pun langsung berubah menjadi
batu.Itulah.Itulah kisah si Malin Kundang.Seorang perantau yang lupa diri.Lupa
daratan.Lupa dari rahim mana ia dilahirkan.Lupa dengan tangan yang merawatnya
semenjak kecil.
Walaupun raga Malin
Kundang menjadi batu dan kisahnya abadi turun-temurun dalam masyarakat
Minangkabau Tetapi sifat lupa daratan Malin Kundang yang menjadi titik
persoalan masih bisa ditemui hari ini. Banyak dari mereka para Perantau minang
yang sukses dan jaya di tanah rantaunya tidak pernah kembali lagi untuk “Mambangun Nagari”Mereka sibuk di perantauannya.Acuh
dengan pendidikan ”Anak Kemenakannya”Buta
dengan kehidupan masyarakat di tempat asalnya dan melupakan falsafah hidup
Minangkabau “Adat Basandi Syarak.Syarak
Basandi Kitabullah”Karakter Keminangkabauannya telah hilang.
Jika pun ada yang
kembali lagi dengan niat “Mambangun
Nagari”Mereka hanya muncul setiap 5 tahun sekali.Mengincar kursi empuk parlemen di senayan.Foto-foto mereka ada
dimana-mana.Mendulang Massa pemilih dengan modus “Bapaknya orang minang.Istrinya
orang minang.Dia lama tinggal di negeri minang.Dia lahir di minang” dan
berbagai cara metode persuasif yang seakan-akan dibuat bahwa ia adalah “Anak Nagari Terbaik”yang harus dipilih
dan dicoblos saat pemilihan umum nanti.
Setelah terpilih apa.?
Mereka buta dengan kondisi masyarakat daerah pemilihannya sebab terlalu lama
bermukim di ibukota.Tidak jarang mereka yang terpilih itu pada akhirnya bingung
mau memperjuangkan apa karena tidak mengetahui kondisi Real masyarakat
Minangkabau hari ini.Dan pada akhirnya mereka memakai “Filsafat” 4D
(Duduk.Diam.Dengarkan.Duit) dalam setiap rapat-rapat pengambilan
kebijakan di parlemen.
Menurut Antonio Gramsci
mereka ini adalah kaum intelektual tradisional.kaum intelektual yang berada di
menara gading,Mereka hidup jauh dari hingar bingar dan realitas yang hidup
dalam masyarakat.
Tokoh-tokoh intelektual
semacam ini memang memiliki wawasan keilmuan yang luas dan tidak jarang juga
memiliki segudang pengalaman dalam dunia sosial dan pergerakan semasa
mahasiswa..Didalam CV nya kadang kala tertulis pernah menjabat sebagai Ketua BEM
Universitas anu.Ketua UKM ini.Ketua Organisasi itu dan berbagai macam jabatan Antu Bilawu lainnya.
Tentu saja kredibilitas
dan kapabilitas kepemimpinannya tidak diragukan lagi.Namun jarak berkata
lain.Hidup jauh di perantauan telah membuat mereka buta dengan keadaaan terkini masyarakat di kampung halaman.Tidak
memahami karakter masyarakat pemilih membuat mereka kadangkala tidak tahu pasti
apa yang seharusnya mereka perjuangkan.
Dan kaum intelektual
seperti inilah yang nantinya akan banyak bermunculan menjelang pesta demokrasi
lima tahunan.Layaknya dongeng Si Malin Kundang tadi.Memang mereka akan kembali
ke tanah asalnya.Tetapi kepulangan mereka tidak akan berarti apa-apa.Jikapun
ada yang berhasil mereka ubah hanyalah nasib segelintir“Sanak Familinya” Saja.
Jika dahulu Malin
kundang menuai kutukan sepulang merantau dari ibunya karena durhaka maka para intelektual tradisional merangkap
politisi ini akan pulang untuk menuai sumpah serapah orang kampung yang telah
terlanjur menggantungkan harapan kepada mereka si Anak Rantau Nagari karbitan tadi.
Tiba-tiba penulis
teringat kepada salah seorang pejuang yang juga perantau minang.yang bahkan
dari tanah pengasingannya masih sempat untuk memikirkan nasib jutaan orang di
kampungnya.Tanah airnya.Indonesia.Yaitu Ibrahim Datuak Tan Malaka.Seorang intelektual
yang masih sempat dan berhasil menjadi tradisional Organik walaupun raganya
berada jauh ribuan kilometer dari kampung halamannya
Oleh karena itu wahai
para perantau minang.Jika ilmu dan bekalmu sudah cukup maka kembalilah untuk
membangun nagari.Ranah Minang menunggu Baktimu.Walaupun ragamu jauh disana tapi
Silau jugalah keadaan kampungmu dari
tanah rantau sana.Dan jika ada Kesempatan maka kembalilah sebagai anak nagari
yang ingin mengabdi.Bukan sebagai politisi pengobral janji.Salam anak rantau..!!!

